Pages

Tuesday, March 15, 2011

Jelajah Tjilatjap – Nusa Kambangan – Pangandaran


Ransel & pouch sudah dikemas, gak sabar deh nunggu hari H mau ngebolang ke Cilacap. Apalagi trip kali ini bareng adik dan beberapa teman jalan yang udah kenal.

Dan…. di hari yang sama saya mendapat 2 daily pass Java Jazz Festival hadiah dari kuis menghayal tingkat tinggi dan mengarang bebas. Dengan berat hari itu tiket dihadiahkan kembali ke sepupu yang memang penonton tetap JJF.

Jumat, 4 Maret 2011

Sengaja pulang agak cepet dari kantor, sampai rumah langsung mandi dan berangkat menuju meeting point di Museum Bank Mandiri, Jakarta Kota. Ternyata oh ternyata… Gunung Sahari macet parah! Efek dari JJF hari pertama. Bis yang ke Kota gak lewat2, taxi juga jarang, ojek juga gak keliatan.

Akhirnya sampe juga di Museum Bank Mandiri. Makan malam yang sangat menggugah selera; Nasi Ulam komplit dari Misjaya.

Okeh… jam 8.20 malem bis berangkat. Dasar genk tukang jalan, ya ketemu temen2 yang sama yang sering jalan bareng. Seperti biasa, di saat akhir pekan tol Cikampek macet tiada terkira sampai mau masuk tol Cipularang.

Sabtu, 5 Maret 2011


Jam 8.30 pagi bis akhirnya sampai di Cilacap. Tempat kita menginap di Cicalap Inn. Jam 9 pagi pergi sarapan ke Teluk Penyu dengan menu soto bening/soto santan dan pastinya makanan khas Cilacap; Mendoan.

Selesai makan, beramai2 menyebrang ke pulau Nusa Kambangan dengan perahu compreng/cadik (perahu motor) berkapasitas +10 orang. Gak lama kog perjalanannya, paling sekitar 20 menit melintasi Segara Anakan dengan keadaan laut yang tenang. Jadi gak ada yang jackpot dong.

Sampai di pulau Nusa Kambangan harus jalan menanjak menuju benteng Lingkar, benteng yang dibangun di dalam bukit. Untungnya panas terik jadi jalannya gak licin dan sudah pernah menempuh medan yang lebih seru waktu di Baduy.

Ow Em Ji, bagus banget tuh benteng. Benteng peninggalan Belanda yang disekitarnya terdapat akar pohon. Tapi hati2 melangkah, kalo kepleset bahaya urusannya; bisa terjun bebas ke hutan ataupun ke dalam benteng.

Masuk ke dalam benteng, ada beberapa area yang sangat gelap, harus pake senter. Setelah menjelajah benteng, akhirnya sampai di pasir putih. Senangnya main air di pantai.

Balik ke Teluk Penyu untuk makan siang dengan menu sari laut alias seafood. Hmmm… nyam nyam. Foto2 (lagi) dengan aneka ikan asin dan juga ada beberapa peserta yang belanja oleh2 ikan asin.

Dilanjutkan dengan mengunjungi benteng Pendem. Dinamanya benteng Pendem konon kabarnya setelah benteng ini selesai dibangun oleh Belanda kemudian ditimbun (dipendam) dengan tanah untuk mengelabui musuh. Perjalan menyusuri benteng sampe ke benteng yang selalu terendam air (kayak penjara bawah tanah di Museum Sejarah Jakarta). Lumayan deh tinggi airnya, kira2 sebetis tanpa bisa melihat apa yang kita injak karena sangat gelap. Pada saat menyusuri terasa ada yang menyangkut di kaki. Hiii… gak tau deh apaan. Di dalam benteng berasa agak2 spooky gitu deh.

Kembali ke penginapan, tanpa mandi lagi gw berlima langsung berangkat ke stasiun KA Cilacap untuk foto2. Senangnya mempunyai teman yang hobi fotografi. Saya siap sedia jadi model deh.

Lanjut menuju klenteng Lam Tjeng Kiong. Disana saya dan adik saya berpisah dengan yang lain karena dijemput sepupu yang memang tinggal di Cilacap. Makan malam kembali dengan menu seafood di Restoran Sari Rasa.

Aduh… maaf ya gak bisa lama2 lama ngobrol dengan kalian. Abis waktunya terbatas banget. Makasih untuk tawaran nginep dan ngajak jalan2 selama wiken. Maybe next time when I visit Cilacap.

Oiya, info dari sepupu saya benteng pendem itu emang spooky terus pernah ada kejadian pembunuhan disana. Hiii…

Balik ke penginapan & gak lama kemudian datang temen Ibu nganterin titipan 100 tusuk sate Martawi; sate ayam dengan 2 tusukan lidi. Wuih… mantep tenan…

Tadinya mo cari roti untuk cemilan besok, tapi apa daya semua toko udah tutup. Ya iyalah… kan udah jam 9 malem. Akhirnya kita terdampar di wisata kuliner malam Cia Cia yang ada setiap Sabtu dan Minggu malam di deket alun2 Cilacap.

Masuk kamar bebersih dan packing. Nitipin sate ke freezernya hotel secara minibar di kamar cuma dingin2 gak jelas gitu. Oiya, dikamar kita minta extra bed, karena mau bertiga, gak mau dipisahkan. Qiqiqi…

Tidur dengan badan remuk redam pantat sakit akibat kelamaan duduk di bis.

Minggu, 6 Maret 2011


Subuh udah bangun dan siap2 menuju Pangandaran. Jam 7an bis bergerak. Ya ampun jalan sepanjang Sidareja sampe Kalipucang (Cilacap – Pangandaran) rusak parah! Hmmm… mungkin karena daerah ini perbatasan antara Jawa Tengah & Jawa Barat jadi Pemdanya saling lempar masalah alias gak ada yang mau keluar duit untuk perbaikan.

Sampai di Pangandaran jam 11an. Eh ada Ibu Rempong ngomel2. Udah tau dia sakit masa’ kita yang dikorbanin nungguin dia. Please deh… saya kan mo jalan2 bukan nungguin orang sakit!

Keliling suaka alam Pangandaran. Keluar masuk goa yang ada disana. Sampe kata sopir bisnya, kita tuh rombongan peneliti goa. Wkwkwk… Sementara pemandunya ngejelasin peninggalan2 kerajaan Pangandaran, kita malah asik berfoto ria. Ada goa yang dihuni kelelawar trus ada juga goa yang dihuni landak. Juga mengunjungi pantainya yang bersih, stalagtit dan stalagmite. Arah keluar menjumpai banyak monyet. Takut… kan gak lucu kalo tuh gerombolan tiba2 nyolek atau malah ngegraok. Nyaris semua peserta ketakutan tapi sayangnya gak ada yang moto momen indah indah ini. Qiqiqi…

Makan siang tetep dengan menu sari laut. Jam 2an bis bergerak menuju Jakarta.

Jangan sedih jangan kecewa, ternyata di Tasikmalaya macet seru! Sempat berhenti dan makan malam di resto yang cukup besar (lupa namanya). Jam 7an malam lanjut jalan.

Whoa… akhirnya nyampe di Museum Bank Mandiri lagi hari SENIN jam 3.30 dini hari!

Perjalanan yang seru sengan teman2 yang gak kalah serunya.

Saturday, April 17, 2010

Dieng - Ambarawa - Jogjakarta


Kamis, 1 April 2010

Berangkat ke kantor dengan membawa ransel besar dan tas tentengan. Pokoknya rempong deh. Hari ini pulang kantor lebih cepat dari biasanya dan untungnya sebagian besar penghuni kantor lagi sibuk dengan persiapan pernikahan anak sang pemilik perusahaan jadi gak ada yang ngeh deh sama bawaan saya yang heboh.


Tapi… OMG, macet banget bo. Sesuai dengan itinerary meeting point di Plaza Semanggi dan akan berangkat jam 19.00 WIB. Tapi sebelumnya saya harus makan malam dulu secara lagi puasa. Akhirnya bis jemputan datang sekitar jam 19.30. You know what... ternyata kendaraan yang digunakan adalah sejenis elf. Ini sih bakalan badan pegel2 deh mana posisi tempat duduk di bus-nya sempit gitu. Kayaknya lebih aman duduk di belakang deh.


Setelah menjemput peserta lain di bypass Rawamangun dan Grand Wisata Bekasi akhirnya nyaris jam 21.00 WIB kita berangkat. Ternyata… penderitaan baru saja dimulai! Tol Cikampek macet buanget! Mampir sebentar di rest area terbesar yang ada Solaria-nya. Jalan Pantura pun sama parahnya. Malah cenderung parkir. Udah bosen tidur dengan berbagai gaya masih tetep aja di daerah Cirebon.


Jumat, 2 April 2010


Akhirnya… keluar dari tol Pejagan jam 6 pagi. Wuih…. perjalanan darat terlama yang pernah saya alami. Asik juga sih, bisa tau kota2 di Jawa Tengah yang selama ini gak pernah saya lewati. Akhirnya sampai juga di Banjarnegara. Loh kog bis-nya muter2 dalam kota ya? Mungkin lagi cari jalan pintas biar cepat sampai di Wonosobo. Belakangan kita baru tau kalau sopir bus tuh nyasar dan yang lebih parah lagi sopir & tour leader mencari penginapan Petra; tempat kita menginap di Wonosobo. Plis deh ini kan masih Banjarnegara belum sampai Wonosobo. Walaupun nama jalan2nya banyak yang sama tapi tetap saja beda kota!


Sampai di penginapan Petra Wonosobo jam 11.30. OMG! Kamar saya sangat tidak layak ditempati deh. Lembab, di beberapa tempat di dinding cat-nya mengelupas dan sprei di tempat tidur gw ada noda minyak. Hiii… bener2 gak banget deh.


Sementara cowok2 peserta trip siap2 untuk melaksanakan shalat Jum’at yang cewek2 mandi dan setelah itu pergi mencari oleh2 di sekitar penginapan. Buat saya sih, jaga2 kalo gak ada waktu buat beli oleh2. Kebetulan toko oleh2 gak terlalu jauh dari penginapan (saya gak akan pernah bilang itu hotel!!) dan bisa dijangkau dengan jalan kaki. Kata Ibu saya nama toko oleh2nya tuh Favorit tapi kog mas2 di penginapan nunjukin toko Varia ya? Hmmm… mungkin si Ibu salah kali. Dan dapet deh apa yang dicari; kripik jamur, abon sapi & dendeng gepuk. Semua khas Wonosobo. Sebelum belok ke Petra mampir ke minimarket buat beli air minum.


Setelah makan siang, rombongan bergerak ke dataran tinggi Dieng. Pemandangan sepanjang jalan adalah perkebunan kentang, wortel dan kol. Hmmm… kenapa gak ada perkebunan teh ya? Biasanya dataran tinggi tuh identik dengan perkebunan teh. Eh ada kog, namanya perkebunan teh Tambi. Sayang gak mampir. Padahal di paket tur di agro wisata Tambi termasuk ke pabrik pengolahan teh hitam-nya.


Telaga Warna


Telaga dengan gradasi warna hijau, dikelilingi pepohonan. Keren abis deh! Sayang cuaca tidak mendukung, mendung dan gerimis. Di sekitar telaga terdapat beberapa gua; Semar, Sumur dan Jaran serta terdapat telaga lain yaitu telaga Pengilon. Tapi kita hanya berkeliling telaga warna, melewati gua Semar dan Sumur karena keterbatasan waktu.


Dieng Plateau Theatre


Teater tempat diputar film mengenai terjadinya dataran tinggi Dieng beserta objek wisata yang terdapat di sekelilingnya. Ternyata dieng Plateau tuh dikelilingi gunung berapi, Gunung Sindoro, Gunung Perahu dan Gunung Dieng sendiri. Pantesan tanahnya subur.


Kawah Sikidang


Ada bekas kawah gunung merapi yang berisi genangan lumpur panas yang meletup2. Bau belerang-nya gak semenyengat di kawah putih. Tapi dinginnya ya bo…. Ampun deh, mana saya gak bawa jaket lagi.


Selain keliling kawah Sikidang, saya juga membeli tempe kemul yang dijual di sekitar kawah. Hmmm… lumayan lah untuk mengusir dingin & lapar. He…3x. Tempe kemul tuh tempe mendoan versi kering.


Balik ke penginapan. Tuh sopir bis emang aneh deh, ya seaneh tur lidernya, he…3x. Ya ampun…. ternyata nyaris semua toko di Wonosobo sudah tutup dari jam 6 sore. Duuh… si tour leader kog gak kasih tau kita ya? Sekarang jadi kepikiran ada gak ya yang jual makanan untuk dinner?


Hmmm…. Pengen nyobain mie ongklok deh. Jam 7an kita nyari makan trus rencanannya mo keliling kota Wonosobo. You know what… jam 7 malem Wonosobo tuh kayak kota mati. Gak ada keramaian. Toko2 pada tutup dan orang yang berkeliaran sangat sedikit. Padahal hari ini kan libur terus besok Sabtu. Saya sempat kabur sebentar nyari roti untuk sarapan secara selama ikut trip ini kita gak bakal dapet makan pagi dan malem. Tapi lagi2 saya harus menemui kegagalan akibat tokonya udah tutup.


Dan ternyata kekhawatiran saya terbukti, susah banget nyari makan malam apalagi mie ongklok. Bukan…. bukan karena jarang yang jual, tapi karena udah pada tutup. Bayangin aja, tukang jualan mie ongklok udah tutup dari jam 6!


Akhirnya nemu satu2nya orang yang jual mie ongklok. Itu juga udah gak lengkap. Gak ada sate sapi-nya. Ya udah deh, daripada ntar ngiler. Ternyata porsinya mungil dan kita sepakat untuk cari tambahan makanan lain setelah menyantap mie ongklok ini. Yaitu…. Nasi goreng babat! Oiya, mbak tur lider sempet gabung bentar pas makan mie ongklok. Saya tanya dong ke dia, untuk makan pagi ada referensi tempat makan gak? Eh dia juga bingung mo makan dimana dan malah nyaranin kita makan cukup banyak malem ini biar besok gak report nyari sarapan. Hello…. Mbak tau gak siy kalo waktu makan tuh gak bisa ditunda or digabung2.


Penampakan dan rasa dari mie ongklok ini mirip mie yamin yang pake kuah. Setelah menyantap mie ongklok kita pindah ke lapak sebelah yang jualan nasi goreng. Nah ini baru mantap! Kenyang pol deh. Setelah itu nyari sate jamur. Udah dicari sampe alun2 ternyata gak nemu tuh sate jamur. Gak cuma itu, sepanjang jalan kenangan yang keliatan cuma orang jualan nasi goreng. Buset deh, apa gak kepikiran buat jual makanan jenis lain ya. Saya sih maunya balik ke penginapan tuh udah capek & ngantuk berat jadi tinggal tidur & gak mikirin kondisi kamar gw.


Alun2 sepi gak ada orang berkeliaran cuma kita 5. Eh ternyata nemu toko Favorit niy. Besok ke toko itu ah. Mau beli dendeng gepuk pesenan Nyokap. Akhirnya kita berfoto ria di bunderan deket alun2. Dan saking sepinya, kita bisa foto2 dengan duduk di tengah jalan raya! Duuh… waktu kog berjalan amat lambat ya. Masa’ udah 2 kali makan besar trus jalan sampe alun2 plus foto2 eh masih jam 10. Arah jalan balik ke penginapan mampir beli wedang ronde sambil ngerumpiin si tour leader yang gak bertanggung jawab itu. Ya… curcol deh. Sampe Petra, langsung masuk kamar, sementara room-mate gw dipijit. Mencoba untuk tidur nyenyak barang sekejap. Tapi kog susyah bener ya???


Sabtu, 3 April 2010


Woi… jam 3.45 pintu kamar diketok temen seperjuangan dan sependeritaan. Oiya, kita kan mo liat sunrise dari Dieng. Makasih ya Jeunk udah bangunin kita. Ternyata saya sempet tidur nyenyak walau sebentar. Alhamdulillah…


Segera jam 4 kita bergerak ke Dieng. Eits… tunggu dulu. Semua peserta sih udah siap bisnya juga udah manteng di depan Petra tapi mana sopir bis-nya ya? Ya oro… plis deh Mbak tur lider, berkomunikasi dong sama sopir bis tujuan dan jam kita bergerak. Untung gak lama kemudian sopir yang ditunggu2 muncul.


Gardu Pandang Dieng


Disinilah tempat kita menunggu sunrise. Pemandangan tepat di depan kita adalah gunung (entah namanya apa). Keren gila deh! Perlahan tapi pasti sang “telor mata sapi” muncul. Semburat jingga yang semakin lama semakin tinggi. Subhanallah…


Candi Arjuna


Di kawasan Dieng terdapat tujuh candi (Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati) yang letaknya terpisah satu dengan lainnya. Dan pada trip ini kita hanya mengunjungi candi Arjuna.


Sampai di kompleks candi Arjuna cuaca sangat bersahabat. Kompleks candi ini gak seberapa besar. Setelah jepret sana jepret sini eh…. muncul pelangi! Subhanallah! Warna pelangi keliatan jelas banget membentuk setengah lingkaran melengkung diatas perbukitan. Penampakan pelangi datang dan pergi. Sempet ngasih makan segerombolan bebek pake roti sisa yang saya bawa. Biar kata merk-nya Holland Bakery tapi ternyata gw gak suka tuh. Daripada mubazir dibuang percuma mending dikasih ke para bebek itu. Balik ke bis, mulai turun gerimis yang tambah lama jadi hujan.


Telaga Menjer


Dengan sangat menyesal rombongan gak bisa turun dari bis secara hujan deras! Keliatannya gak jauh beda sama situ Patenggang yang di Ciwidey.


Sayangnya karena keterbatasan waktu kita gak sempat ke air mancur… katanya sih air ini bisa bikin awet muda. Kalo mo awet muda…. face lift aja kaleee….


Balik ke Petra langsung mandi. Soalnya mau ke toko Favorit nih. Eh ternyata ada pedagang nasi bungkus yang mampir di penginapan. Ya udin deh kita beli aja. Makannya gak pake perasaan langsung telen. Lumayanlah buat ganjel perut sampe siang. Untungnya toko2 di Wonosobo tuh jam 7 pagi juga udah pada buka jadi bisa nambahin belanjaan deh. Walopun jam 6 sore udah pada tutup.


Saya hanya punya waktu 30 menit buat ke toko Favorit dan beli beberapa roti/kue basah. Room-mate saya nitip beliin kripik jamur. OK lah kalo begitu. Dendeng gepuk dapet, roti gak jadi beli (penampakannya gak meyakinkan sih) ganti jadi beberapa kue basah & kripik jamur udah di tangan. Siippp..

Perjalanan menuju Ambarawa diisi dengan tidur. Ya iyalah, secara kurang tidur & perut udah kenyang.


Ada kejadian lucu or tepatnya dodol! Setelah bis isi bensin, tadinya tujuan berikutnya adalah museum KA Ambarawa, tapi ada peserta yang bilang mending ke Candi Gedong Songo aja secara papan petunjuk arahnya cuma selemparan batu dari pom bensin. Ya ampiun, gimana siy Mbak tur lider… Kita nyaris kehilangan waktu kalo sampe ke Ambarawa dulu. ** keluh peserta yang cuma bisa ngurut dada sambil geleng2 ‘pala **


Candi Gedong Songo


Ternyata oh ternyata candi Gedong Songo tuh kompleks percandian yang terdiri dari 9 candi yang letaknya ampun deh berjauhan dengan tingkat kemiringan bukit nyaris 45 derajat. OMG!


Lagi2 Mbak tur lider bikin bete. Masa’ udah sampe kawasan candi Gedong songo kita cuma disuruh makan siang bareng & ngampar pake tiker kayak orang piknik. Aduh plis deh, saya kesana kan mo eksplor & foto2. Untungnya saya udah sarapan rada nampol jadi gak ribet mikirin makan siang.


Tadinya saya mau sewa kuda biar bisa menjelajah sampe candi ke 9 tapi mahal bo. 50 ribu. Akhirnya saya nyerah cuma sampai candi ke 3. Itu juga udah megap2. Yang berat dari candi pertama ke candi ke 2. Udah jauh pake acara nanjak lagi. Di candi ke 3 ada gerombolan bule yang lagi leyeh2. Lumayanlah ada pemandangan rada bagus. He…3x. Pasti keren banget kalo bisa sampe ke candi ke 9. Gila ya, orang jaman dulu ngapain siy bangun candi misah2 gitu mana jarak jauh & nanjak lagi. Hebat…


Museum Kereta Api Ambarawa


Sayang seribu sayang saya gak naek kereta uap secara gak ada romboongan yang nyewa itu kereta jadul. Soalnya 1 gerbong harga sewanya 3,5 juta dan cukup untuk 80 orang. Terpaksa deh naek kereta wisata aja. Kayak yang di TMII itu loh. Lokonya pake diesel. Rutenya cukup unik. Lewat gang perumahan yang mepet banget trus keliling Rawa Pening. Sampe pening deh saya, he…3x. Kenapa ya dinamain Rawa Pening?


Turun sebentar di stasiun Toentang buat foto.


Pas pulang, ada sedikit masalah sama kereta. Mogok bo… Ternyata kehabisan solar. Pake acara didorong lagi. Gak abis pikir, kog bisa ya sampe kehabisan bahan bakar.


Balik lagi ke museum KA Ambarawa, foto2 koleksi loko jadul. Sambil nunggu peserta laen pada ngumpul, gw beli wedang ronde. Udah mulai lapar niy.