Pages

Showing posts with label Lampung. Show all posts
Showing posts with label Lampung. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

Berakhir Pekan ke Pahawang - Lampung

Jumat - Minggu, 5 - 7 Juni 2014
Open Trip Rp 450.000






Pulau Pahawang adalah desa dan pulau di kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Indonesia. Pulau ini terletak lepas Teluk Punduh. Pulau Pahawang belakangan ini menjadi surga baru para diver. Terumbu karang yang cantik dan ikan-ikan lucu ada di sini


DESTINATION :
-----------
• Pahawang
• Kelagian
• Tegal
• Mahitem
• Tanjung Putus
• Balak
• Lunik


INCLUDE :
-------
• Tiket kapal Ferry PP Merak <> Bakauheni
• Transportasi AC dari Bekauheni menuju Pulau Ketapang
• Makan 3X
• Sewa kapal kayu 2 hari Explore Pulau
• Life Jacket
• Dokumentasi Foto

EXCLUDE :
-------

• Alat Snorkling
• Upgrade Class di Kapal Ferry
• Biaya Transportasi dari Domisli asal ke Merak
• Asuransi dan biaya lain diluar fasilitas.

ITINERARY :
---------

Hari-1
16.30 - 17.00 : Tim BDG Meeting Point Terminal Leuwi Panjang
19.00 - 20.00 : Tim JKT Meeting Point Terminal Kampung Rambutan
20.00 - 23.00 : Perjalanan menuju Merak
22.00 - 24.00 : Meeting Point di Pelabuhan Merak

Hari-2
00.00 – 03:00 : Perjalanan penyeberangan P. Merak ke Bakauheni
04:30 – 08:00 : Perjalanan P. Bakauheni ke Ketapang (Sarapan)
08:00 – 08:30 : Perjalanan Ketapang ke Pulau Kelagian (*ganti pakaian renang, snorkling sudah di mulai dalam perjalanan menuju tanjung putus )
08:30 – 09:00 : Sarapan dan foto- foto di sekitar pulau kelagian.
09:00 – 14:00 : Snorkeling di P. Kelagian Kecil, P. Pahawang Kecil, foto2 dan main-main di Gosongan. (makan siang di Pahawang Kecil)
14:00 - 15.30 : Menuju Pulau tanjung putus
15.30 - 16.00 : Snorkeling di Tanjung Putus
16.00 - 16.30 : Menuju Penginapan di P. Balak
17.00 - 05.00 : Acara bebas (makan malam lanjut perkenalan)

Day 3
06.30 – 08.00 : Meikmati Sunrise dan Sarapan Pagi
08.00 – 09:30 : Snorkeling P. Balak dan P. Lunik
09.30 – 12.30 : Snorkeling di P. Mahitem dan bermain gosongan di P. Tegal
12.30 – 14.30 : Menuju ke P. Kelagian prepare kembali ke Ketapang
14.30 – 15:00 : Perjalanan menuju B. Lampung (makan siang)
15:00 – 18.00 : Mampir ke toko oleh2 Yen-yen dan Perjalanan ke Bekauheni
18:00 - 21:00 : Perjalanan dari Bekauheni meunju Merak
21:00 : Kembali ke Jakarta / kota lainnya




THINGS TO BRING :
---------------
• Obat-obatan Pribadi -- > yg mabok bisa membawa obat-obatan pengilang mabok
• Pakaian snorkling, pakaian ganti & Baju hangat
• Daypack
• Topi / payung / Rain Coat
• Sepatu Sport / Sandal Adventure
• Peralatan bersih diri
• Sunblok
• Lotion anti nyamuk (Menghindari wabah serangan nyamuk)
• PPPK pribadi
• Tanda pengenal (Min KTP)
• Alat komunikasi
• Alat snorkling jika punya
• Uang secukupnya



Jumat, 5 Juni 2014

Udah lama juga nih gak refreshing nyemplung laut, basah2an. Kebetulan ada satu komunitas jalan2 yang ngadari jalan ke Pahawang. Langsung daftar deh. Kan gak pake cuti, berangkat abis jam kantor di hari Jumat. Lagian kasihan tuh peralatan snorkeling, udah lama yang dipake :D

Seperti biasa, beberapa hari sebelum hari H saya sudah nyicil packing. Dan kali ini yang pertama dikumpulin adalah peralatan snorkeling. jangan sampai ketinggalan!

Hari belum pernah pergi langsung dari kantor ke pelabuhan Merak, saya janjian sama teman kantor yang rumahnya di daerah Serang dan setiap Jumat pulang kesana. Kebetulan di hari keberangkatan, boss saya cuti. Jadilah saya jam 16.30 teng langsung melarikan diri :D.

Sebetulnya jarak tempuh dari Kuningan (Rasuna Said) menuju Slipi gak terlalu jauh apalagi jika menggunakan Trans Jakarta. Tapi... gak untuk hari Jumat. macetnya ampun2. Nyaris 2 jam saya saya tempuh! Walaupun menggunakan Trans Jakarta tapi di beberapa tempat, jalurnya tidak dipisah dan bergabung dengan jalur umum untuk semua kendaraan. Udah gitu melewati beberapa gerbang tol yang antriannya saja sudah sangat panjang. Yang ada jadi kebalik deh; Trans Jakarta keluar jalurnya dan melintas di jalur umum eh mobil pribadi dan kendaraan umum lainnya malah masuk ke jalur TJ.


Bus yang ke Merak akan berhenti di depan Slipi Plaza untuk menaikan dan menurunkan penumpang. Banya PO bus yang menuju ke Merak. Untungnya saya berangkat dengan teman saya, yang tau mana bus yang (agak) nyaman dan gak ngetem lama.

Tidak berapa lama, bus yang dimaksud datang. Dan benar saja, bus sudah cukup penuh. Saya dan teman saya akhirnya duduk di ruang smoking. Ih... padahal saya paling sebel sama asap rokok. Tapi daripada berdiri sepanjang jalan sampe Merak, mending tahan2in aja deh :(

Bus memang tidak ngetem, paling berhenti sebentar untuk ambil penumpang. Dan teman saya pun turun di Serang. Eh kalo lewat Serang jadi keinget waktu ikutan Blind Travel II deh. Nge hitch hike dari Jakarta sampe Lampung. Gila bener deh itu program!

Sampai pelabuhan Merak sekitar jam 22.30. Masih bisa lah belanja2 makanan untuk bekal selama perjalanan. Pada papan display terlihat jadwal keberangkatan ferry. Wuih... ternyata 24 jam non stop ferry pergi dan datang.

Setelah semua peserta kumpul, jam 24.00 kita berangkat menuju ferry. Tarif resminya sih Rp 13.000 tapi setelah di dalam ferry ada biaya lain yang harus penumpang keluarkan apabila ingin pindah kelas ke ruangan ber AC. Ya udin, secara saya capek dan ngantuk, akhirnya nambah untuk pindah kelas. Begitu juga sengan semua peserta.

Di dalam ruangan saya langsung atur posisi untuk tidur dan gak lama kemudian zzzzz.....

Sabtu, 6 Juni 2014

Bangun2 udah mau sampai di pelabuhan Bakauheni. Ternyata.... penumpangnya banyak loh. Kalau saat saya mau tidur masih bisa pilih2 lokasi, pas bangun kog jadi penuh gini ya?

Butuh waktu agak lama sampai ferry merapat ke dermaga. Itu pun kita masih harus mengantri untuk keluar dari ferry.

Setelah kumpul semua, kita menuju parkiran untuk naik kendaraan yang disewa untuk perjalanan ini. Ternyata kita menggunakan BRT (Bus Rapid Trans) semacam Trans Jakarta yang beroperasi di Lampung. Tapi armada yang digunakan BRT lebih kecil dari TJ. Saya tau BRT waktu ikut Blind Travel II. Jadi inget lagi deh :D.

Dari Bakauheni ke Ketapang jauh bingits! Lama perjalanan sampai 3 jam! Lewat kota Bandar Lampung yang oleh orang lokal disebut juga Tanjung Karang. Tanda kita sudah berada di Lampung adalah lambang kota Lampung berupa Siger yaitu mahkota perempuan. Di depan gedung/bangunan parti ada Siger ini bahkan saat kita mendekat ke pelabuhan Bakauheni, dari ferry dapat terlihat Siger raksasa dan susunan huruf membentu Lampung berwarna kuning.

Sampai di Ketapang, semua peserta turun untuk sarapan pagi dan berganti baju. Karena dari Ketapang akan langsung ke Kelagian untuk memulai snorkeling.

Saya memutuskan untuk sarapan lontong sayur sementara peserta lainnya ada yang memilih nasi Padang ada juga yang nasi uduk. Ini penjual makanan di sekitar sini gak punya jiwa bisnis ya? Ada beberapa lauk yang habis dan kita minta digorengkan telur dadar eh Ibu penjualnya bilang gak bisa karena masih sibuk melayani yang lain dan tidak ada yang membantu. Padahal itu kan sumber pemasukkan Bu...

Setelah semua peserta berganti baju, kembali naik minibus menuju Kelagian.

Sempurna! Hari ini matahari semangat bingits keluarnya. Cerah secerah2nya!

Sampai Kelagian, langsung dibuat kelompok dan dibagi menjadi 3 kapal motor. Semua tas yang tidak diperlukan dibawa oleh 1 perahu khusus barang2.

Pertama menuju pulau Kelagian. Hmmm... ikan2nya gak bagus nih, tapi... bunga karangnya keren bo...

Lanjut ke TKP kedua;  pulau Pahawang nyebur lagi.... Singgah di pulaunya untuk makan siang.



Meneruskan perjalan ke Pasir Timbul. Sayangnya saat kita kesana air laut sedang pasang sehingga, pasir yang muncul tidak terlalu luas. Duuuhhh... rasanya gak mau pulang deh. Berada di gundukan pasir yang sekelingnya laut dengan gradasi warna dari hijau menjadi biru.

Eh di tempat ini ada cafe Pasir Timbul loh. Tadinya saya pikir ini cafe yang berbentuk floating house menyediakan aneka makan dan minuman tapi sepertinya cum atempat untuk leyeh2 aja tanpa menjual makanan dan minuma. Dan untuk masuk ke Cafe ini juga dikenakan biaya Rp 10.000. Ish...

Dari Pasir Timbul ke satu spot snorkeling lainnya sebelum ke pulau Balak tempat kita menginap. Karena sudah sore dan ombak agak tinggi, beberapa kali kapal motor menerjang ombak kecil. Basah... basah... basah... Untung tas pakaian diangkut dengan kapal lain dan sudah langsung dibawa menuju penginapan.

Sampai di pulau Balak, masing2 kelompok diantar ke penginapan. Listrik di sini baru menyala pada jam 18.00 jadi selama itu ya gelap2an deh. Atau ada beberapa rumah yang menggunakan generator.

Masing2 penginapan hanya terdapat 1 kamar mandi. Jadi harus antri deh.

Gak sempat liat hatahari terbenam secara lagi ngantri tuh :D

Sekitar jam 7an malam, makan malam telah disediakan di dekat dermaga lanjut dengan seafood barbeque. Kenyaaang....

Minggu, 7 Juni 2014

Pagi2 udah keluar penginapan demi mengejar matahari terbit di dermaga. Tapi sayang... mataharinya tertutup awan. Jadi cuma bisa lihat semburat merahnya aja.

Jam 07.00 semua sudah siap untuk sarapan dan lanjut snorkeling lagi. Nah... semua barang2 langsung dibawa karena kita akan langsung pulang menuju Kelagian.

Tujuan pertama adalah pulau Tanjung Putus. Kayaknya dari kemarin jenis ikannya itu2 aja dan gak banyak macamnya deh. Nemo lagi nemo lagi :D. Tapi memang di Pahawang dan pulau2 lain bunga karangnya cakep2. Mending lah... daripada di Belitung. Ikannya jarang dan gak ada bunga karang. Menang di pantai aja sih, yang berbatu2 besar gitu :D

Berikutnya adalah pulau Pahawang Kecil. Aduh... cakep banget deh. Jadi ada pasir timbul yang memanjang seperti menghubungkan 2 pulau. Udah gitu warna lautnya gak kalah cakep! Putihnya pasir pantai berpadu dengan birunya laut dan hijaunya pulau. Keren...



Dari sini kita menuju satu pulau lagi sebelum akhirnya ke Kelagian.

Di Kelagian banyak tempat untuk bilas dan mandi. Tinggal pilih deh. Di Kelagian ini selain bersih2 juga untuk makan siang. Saya milih menu soto ayam yang letak warungnya terpisah dari yang lain.

Setelah kelar di Kelagian, bus menuju Bandar Lampung tepatnya ke pusat oleh2 untuk belanja oleh. Sementara peserta lain udah heboh turun untuk belanja, mata saya justru melihat ke sebuah bangunan dekat toko oleh2. Klenteng!



Saya foto2 dulu klentengnya baru mencari keripik pisang khas Lampung. Gak banyak sih. Cuma menuntaskan rasa penasaran keripik pisang dengan merk Suseno :D

Setelah selesai berbelanja bus berjalan menuju Bakauheni.

Sempat kena macet karena ada perbaikan jalan, jadi kendaraan dua arah bergantian untuk lewat.

Hmmm... sampai di pelabuhan Bakauheni sudah nyaris jam 21.00. Hadeuh... jam berapa sampai Jakarta nih. Besok saya ngantor pagi 2 woi...

Sama seperti ketika berangkat, di dalam ferry ini juga harus bayar untuk pindah ke kelas yang ber AC. Tapi kog lebih murah ya tiketnya?

Senin, 9 Juni 2014

Hampir jam 01.00 ferry sampai di pelabuhan Merak. Ya ampun... ini ferry lama banget untuk merapat ke dermaganya. Maju mundul gajebo gitu. Saking lamanya, klakson dari mobil, bus, truk dan kendaraan lain saling bersahutan.

Setelah sampai pelabuhan saya berpisah dengan peserta lain untuk naik bus yang ke arah Kampung Rambutan. Biasanya saya turun di pinggir pintu masuk tol Slipi. Tapi apa yang terjadi? Bus nya bablas dan akhirnya saya turun di dekat gedung MPR/DPR. Untuk ada taxi si burung biru yang lewat. Langsung naik deh.

Dan... sampai rumah sudah jam 4 subuh. Hmmm... lumayanlah untuk tidur 1 jam sebelum bangun dan siap2 ke kantor :D

Sunday, November 25, 2012

Blind Travel 2 - Hari Kelima (Terakhir)

Minggu, 18 November 2012

Hari terakhir petualangan ala ala Amazing Race. Dan pastinya hari ini tanpa drama hitching menuju Jakarta.

Jam 8 pagi bis datang dan kami semua masuk bis. Ternyata Liwa – Rajabasa jauh abis bo… Sampe 7 jam! 

Jalan yang meliuk2, naik turun sampe bisnya bermasalah dengan kampas rem. Temen sebangku saya, Mbak Nana, sampe panik begitu denger ada yang teriak api. Untung situasi ini bisa dikendalikan dan bis dapat berjalan kembali. 

Masalah berikutnya adalah kelaparan yang mendera secara ini tangki belom diisi. Bis berhenti di sebuah resto sederhana. Lupa namanya. Tapi lumayanlah untuk sarapan. Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi hujan deras! Apes buat saya, persis diatas jendela, atap bisnya bocor, jadilah rada2 duduk melipir. Untung Ibu2 di sebelah saya (eh udah bukan Mbak Nana lagi loh) turun lebih dulu. Jadi bisa saya kuasai bangkunya. *devil eyes*

Senang akhirnya bisa ketemu Fahmi, Rikky dan Prima lagi di terminal Rajabasa. Tuh kaaan… walaupun kalian maksa mau berpisah dengan kita tapi akhirnya dipertemukan kembali.

Dari Rajabasa menuju Bakauheni ditempuh dalah waktu 3 jam. Jauh juga yah.

Akhirnya harus berpisah dengan Lampung ketika ferry perlahan meninggalkan Bakauheni pada jam 8 malam dan kita berpisah di Merak. Eh enggak ding, saya masih satu bis dengan beberapa peserta seperti Ato, Rikky, Mbak Nana, Arum, dan ada beberapa lainnya yang lupa siapa aja.

Banyak cerita teman2 peserta Blind Travel 2 ini. Dan benar2 kekompakkan serta saling menyemangati terbentuk dalam setiap perjalanan.

Oiya, di Lampung ini banyak sekali objek wisata yang belum tergali. Hanya sedikit orang tau. Itu pun dibumbui dengan cerita2 mistis. Seperti cerita teman gw yang ke goa Matu, orang lokal menganggap goa Matu itu tempat bertapa mencari pesugihan. Helloooo... hari gini?

Mungkin dari berbagai destinasi yang harus dituju, hanya destinasi Pulau Tangkil yang relatif mudah. Karena tidak jauh dari Bandar Lampung/Tanjung Karang, akses ke sana mudah karena merupakan tempat berlibur warga Lampung. Tapi jauh ke meeting point terakhir, sehingga mereka adalah peserta terakhir yang sampai.

Kemudian cerita teman yang ke Batu Brak, menurut keterangan orang2 lokal, apabila akan terjadi bencana di daerah sekitar, batu ini akan bergerak/bergetar jauh hari sebelum kejadian. Seperti musibah gempa besar di Liwa beberapa tahun yang lalu. Sebelum musibah, konon batu ini bergetar. Yak kali, kalo dipikir2 mungkin aja bergetar karena memang sebelumnya gempa berskala kecil sudah terjadi sehingga batu tersebut bergerak sementara karena aktivitas dan gravitasi manusia belum merasakan getaran tersebut.

Menutup cerita, walaupun badan capek tapi ada banyak cerita untuk diingat dan dijadikan pengalaman. Kapok? Hmmm... kayaknya enggak tuh. Hihihi...

Blind Travel 2 - Hari Keempat

Sabtu, 17 November 2012
Krui

Hari ini adalah hari santai bagi semua peserta. Peserta bebas malakukan aktivitas apapun. Peserta terbagi menjadi 2 group; ada yang mengunjungi goa Matu yang konon kabarnya keindahan goa Matu membuatnya layak untuk dikunjungi dan yang lainnya pergi ke Pulau Pisang.

Di tengah perjalanan menuju dermaga ada pemeriksaan kendaraan oleh Kepolisian Lampung. Entah apa yang mereka periksa dan mereka cari. Tapi sempat terlihat pengemudi mobil kami menyelipkan uang ke tangan salah satu polisi dan tidak ada seorang pun polisi yang memeriksa kendaraan kami. Ternyata sogok menyogok sudah menyusup ke daerah2 di Indonesia.

Diantara polisi2 yang berpatroli itu ada juga loh yang unyu2. *blushing*
Sayang seribu sayang, niat ke Pulau Pisang tidak kesampaian karena tidak ada kapal yang akan mengantar kami. Kapal baru akan datang sekitar pukul 14.00 sementara kami datang jam 11.00 an.

Setelah berdiskusi dengan teman2 yang lain akhirnya kami putuskan untuk menyusul ke goa Matu. Pe er banget nih buat gw kalo disuruh trekking. Pantai menuju goa Matu tidak terlihat dari jalan raya dan disekitarnya sepi. Akses menuju goa Matu tuh kudu trekking ke bawah menuju pantai yang indah tapi harus menuruni bukit terjal untuk sampai ke goa Matu. Terimakasih deh, saya cukup sampai di pantai saja. Lagian saya tidak mau menyusahkan teman2 yang lain kalo sampai ikut ke goa Matu karena saya lihat sudah mendung dan saya gak piawai dalam hal panjat memanjat. Percaya banget sama apa yang disampaikan teman2 bahwa pemandangan di sana keren abis.

Trekking naik dari pantai disertai hujan yang cukup deras, Entah dengan kekuatan dan keberanian apa, saya dapat naik dengan cepat. Sampai di pinggir jalan raya, kami menunggu mobil yang akan menjemput dengan kondisi basah kuyup dihajar hujan.

Disini kami berpisah dengan Prima, Fahmi dan Rikky yang memutuskan untuk pulang duluan ke Jakarta. Goodbye friends, till we meet again someday, somewhere, somehow.

Sampai di penginapan, buru2 antri ke kamar mandi buat bersih2. Sepertinya cuaca hari ini kurang bersahabat. Mendung yang berlanjut hujan dari siang sampai malam.

Sekitar jam 8 malam kami menikmati ikan bakar di restoran La Tanzah. Emang hari ini hari mujur. Tadi siang ketemu polisi unyu eh pas makan malam ketemu bule bening.


Kembali ke penginapan dengan setengah berlari karena rintik hujan sudah turun. Langsung ngepak barang2 karena besok pagi bis yang akan ke terminal Rajabasa akan datang sekitar jam 7 pagi.

Blind Travel 2 - Hari Ketiga

Jumat, 16 November 2012
Krui

Lewat tengah malam akhirnya sampai di Sukaraja dan tidur di teras mesjid. Eh itu supir minta tambahan Rp 10ribu/orang. Kesel sih tapi secara udah malam dan dalam kondisi ngantuk plus capek akhirnya kita kasih aja. Turun dari mobil travel brrrr…. hawa dingin terasa menusuk kulit. Yang pertama dicara adalah jaket setelah itu baru beres2 dan gelar sleeping bag. Alhamdulillah… bisa tertidur walau cuma sebentar.

Ternyata di Sukaraja tidak ada signal hp boro2 buat bbm-an atau update status. Menjelang subuh saya terbangun karena ada pengurus masjid yang datang untuk menabuh bedug Subuh. Ternyata cuma 2 orang yang shalat Subuh berjamaah di masjid ini. Sayang yah, padahal hampir semua penduduk di desa ini beragama Islam. 

Setelah shalat sebentar kami ngobrol2 dengan Bapak pengurus masjid. Ditunjukin jalan menuju air panas yang melalui pasar Ternyata terdapat 2 lokasi air panas di Sukaraja satu yang terdekat dari posisi kami dan lainnya yang sangat jauh yang terletak di atas bukit. Selain itu juga terdapat air terjun. Dari Bapak ini juga kami mengetahui bahwa warga Sukaraja kebanyakan berasal dari Simendo (Sumatera Selatan) dan Jawa. Rumah penduduk hampir semua berupa rumah panggung.
Melewati pasar sebelum menuju air panas kami mencari warung yang menjual makanan untuk sarapan. Say no to Mie Instant!

Ternyata hari pasaran di tempat ini adalah Kamis dimana para pedagang membawa beraneka dagangannya berupa sayuran, buah, bumbu, aneka ikan dll.
Akhirnya kami menemukan rumah yang menjual soto ayam. Oleh pemilik rumah kami ditawari ojek Rp 20 ribu/orang sekali jalan menuju air panas yang terdekat. Karena pertimbangan waktu kami memutuskan untuk mengunjungi lokasi air panas yang terdekat dengan berjalan kaki. Toh hari masih pagi dan kami masih punya cukup waktu. Sebelum pergi menuju air panas kami menitipkan tas di rumah penjual soto ayam karena nantinya pada saat kembali kami akan melewati rumah ini lagi.

Dan entah ada apa disana atau jalan menuju kesana, banyak orang yang tidak berani ke air panas yang terjauh yang berlokasi diatas bukit. Seperti beraroma mistis gitu.

Satu setengah jam berjalan kaki dari pasar menuju air panas Sukaraja, dengan kondisi jalan menanjak dan menurun. Untung cuaca cerah sehingga jalanan tidak licin. Kami bertemu dengan Pak Jenggot yang merupakan kuncen dari air panas Sukaraja dan diajak melewati jalan pintas melalui perkebunan kopi.

Ternyata yang disebut air panas itu adalah danau yang mengandung belerang yang dibeberapa tempatnya terdapat lumpur yang meletup2 seperti mendidih. Konon kabarnya kalo meletakkan telur dalan lumpur panas tersebut bisa matang. Tapi entah rasanya seperti apa.

Disekitar danau banyak sampah berupa pakaian yang ditinggal para pengunjung. Karena konon yang disyaratkan bagi para pengunjung yang datang dan mandi/berendam di danau ini untuk mengobati aneka penyakit kulit, pakaian yang mereka kenakan pada saat berendam harus ditinggal untuk membuang penyakit. Sayang ya, danau ini jadi kotor oleh sampah pakaian.

Kami tidak lama berada di danau air panas, dengan dipandu Pak Jenggot kami kembali ke tepian jalan. Pada perjalanan kembali ke pasar Sukaraja, kami sempatkan berkunjung ke rumah Pak Jenggot karena tadi belum sempat mengucapkan terima kasih telah diantar ke danau air panas.
Kami diterima Pak Jenggot dan kelurganya dengan sangat ramah. Sungguh keramahan yang tulus dari seluruh anggota keluarga.

Entah mengapa walaupun di luar panas terik tapi di rumah Pak Jenggot ini terasa teduh dan adem dengan semilir angin. Kami disajikan teh dan pisang yang membuat kami terheran2. Pisang tersebut berbenduk dempet2 yang oleh masyarakat setempat dinamakan pisang campit. Bahkan kami di oleh2in pisang campit untuk dibawa. Rasanya masih pengen berlama2 di pondok Pak Jenggot tapi kami harus kembali.

Balik lagi ke warung soto ayam untuk ambil tas dan makan pecel yang menurut saya lebih mirip karedok karena memakai kencur.

Kami menuju jalan raya untuk menunggu bis yang akan mengantar kami ke terminal Liwa sesuai dengan perintah panitia. Sepanjang perjalanan Sukaraja – Liwa kami disuguhi pemandangan yang sangat Indah dengan jalan berkelok2.

Gw jadi tau desa yang namanya Liwa. Dulu pernah terjadi gempa cukup kuat di daerah ini.

Sekitar 3 jam dari Sukaraja menuju Liwa. Ternyata meeting point dipindah ke rumah makan sebelum terminal dan kami kelewatan. Informasi dikirim telat kami terima karena signal hp antara ada dan tiada. Kondisi pada saat itu gerimis dan sepertinya akan turun hujan.

Jam 15.00 semua peserta yang sudah berkumpul menuju Tanjung Setia. Belum semua peserta berkumpul karena ternyata ada yang lokasi cukup jauh menuju Liwa. Tanjung Setia tidak terlalu jauh tapi pemandangan ciamik! Tebing Bukit Barisan Selatan yang juga terdapat air terjun dan goa di beberapa tempatnya. Air terjun dan goa ini terlihat dari jalan raya bahkan jika sempat dapat mampir dulu tanpa perlu trekking. Indahnya…

Penginapan yang kami tempati berupa rumah panggung yang lokasinya dekat dengan pantai berombak tinggi. Kabarnya para surfer banyak yang mengunjungi pantai ini.

Setelah makan malam dilanjutkan dengan aneka games dan pembagian doorprize. Jangan sedih jangan kecewa karena semua peserta kebagian doorprize. Juga ada penilaian laporan/catatan perjalanan tiap kelompok yang pemenang mendapatkan beasiswa kursus menulis dari Tempo Institute.

Blind Travel 2 - Hari Kedua

Kamis, 15 November 2012
Jkarta - Lampung

Tengah malem ngider Karawaci, pake truk pula. Hadeuh... biasanya gw & temen2 ke Karawaci buat ngopi leyeh2 di kedai kopi eh ini keluyuran pake truk.

Dengan truk kedua ini kami turun di seberang Mall Tang City. Sumpah... gw gak tau di daerah manakah tempat ini berada. Cukup sulit mendapatkan tumpungan berikutnya. Sepi dan jarang truk berseliweran. Akhirnya ada pick up yang bersedia di tumpangi sampai daerah Bitung. Lumayan deh, manjatnya gak terlalu tinggi :D. Ternyata sopirnya malah nganterin kita ngelewatin tempat dia. Secara rada miskom gitu, dia cuma minta dibeliin 1 bungkus rokok. Okeh deh, kali ini keluar duit Rp 12ribu dibagi 9 orang.

Dari Bitung ke Serang nunggu tebengan lama banget. Bis pun jarang dan ongkosnya lumayan mahal. Sempet disamperin polisi yang lagi nyamar dan ngira kita lagi “jualan”. Gila apa, mana ada orang “jualan” tampangnya kucel & bawa backpack.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami mendapat tumpangan pick up sampai Serang. Dari sana menuju masjid An Nur di samping RS Sari Asih Serang untuk sejenak beristirahat dan menunggu adzan Subuh.

Dari Serang sepertinya tidak ada kendaraan yg dapat ditebengin pun langit semakin terang. Akhirnya naik bis sampai Merak dan harus mengeluarkan Rp 5ribu/orang.

Ah... akhirnya sampe Merak juga. Ini kali kedua gw menginjakkan kakai di pelabuhan Merak. Sebelumnya pernah kesini waktu mau berkunjung ke Krakatau.

Di Merak, dengan berat hari ketiga group ini harus berpisah (beneran!) untuk mencari tebengan yang akan mengantar sampai Bakauheni. Kali strategi yang dipakai adalah kita cobe nitching dengan mobil pribadi. Dengan pertimbangan kalo mobil pribadi kan prioritas masuk ferry jadi ngantrinya gak terlalu lama. Kecuali kalo gak ada mobil pribadi yang mau ngangkut kami, barulah kita beralih ke truk (lagi!) :P.

Akhirnya kami bertemu dengan Iqbal, Rizky & Kabay dengan Avanza hitamnya yang bersedia kami tebengin. Dapet mobil tumpangan trus dapet ferry yang bagus dengan ruang tunggu yang ber AC dan listrik charging yang gratis. Alhamdulillah… Atas kepiawaian Rikky ngobrol2 sama Iqbal akhirnya Iqbal dkk bersedia mengantar kami sampai lapangan Saburai. Thanks for that, mate…

Gw akhirnya tau yang namanya kota Bandar Lampung yang oleh warga lokal leboh dikenal dengan nama Tanjung Karang. dengan jalan yang menanjak & menurun. Juga tau Siger (mahkota di kepala) menjadi simbol Provinsi Lampung ini. Dimana2 terdapat Siger seperti di bunderan, depan gedung dll.

Ternyata gak gampang nyari yang namanya lapangan Saburai, sempet nyasar2 juga yg bikin gak enak hati. Secara udah nebeng dan dianterin plus pake nyasar pula. Sebetulnya group gw udah sepakat, kalo sampe gak ketemu juga, biar deh kita turun di jalan. Tapi Iqbal dkk mau mencoba untuk antar kami ke Saburai.

Akhirnya nyampe juga di lapangan Saburai sekitar jam 13.00 dg matahari lagi lucu2nya alias terik banget.

Dan ternyata, Team 2 adalah team pertama yang sampai di lapangan Saburai. Padahal sebelumnya kami kira kami adalah team terakhir yang sampai karena sudah jauh melebihi jam yang ditetapkan. Padahal dari berita yang kami terima griup lain berada cukup jauh di depan kali, bahkan ada yang dapat tumpangan yang nyaman, mobil gress dari showroom yang akan diantar ke Lampung. Siriiikkk...

Setelah makan siang dan bersih2, kami mengambil undian untuk menuju destinasi berikutnya. Kami harus mencari air panas Sukaraja yang entah ada dimana tempat itu. Sementara tujuan lain yang diundi adalah Goa Matu, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Batu Brak, Pulau Tangkil dan Gunung Pesagi.

Kembali kami di beri uang saku sebesar Rp 80ribu/orang. Dengan uang sebesar itu, saya pribadi sudah menebak2 tempat tersebut berada jauh dan transportasinya akan sulit.
Hal pertama yang kami lakukan adalah menanyakan kepada polisi yang kebetulan banyak berada di sekitar GOR Saburai. Kebetulan di Saburai sedang berlangsung berbagai acara, sehingga cukup ramai. Informasi dari Pak Polisi, tempat tersebut memang jauh dan tidak ada kendaraan yang langsung menuju kesana. Ternyata hanya sedikit warga lokal yang mengetahui lokasi air panas Sukaraja.

Pertama yang harus dilakukan adalah mencari halte BRT (Bus Rapid Trans) semacam Trans Jakarta-nya Lampung yang menuju terminal Kemiling. Eh sempet kita ngadem loh di Central Plaza Lampung dan senangnya ketemu counter-nya si Ronald belang2 (you know what it is lah…). Lumayan... berada ada di kota. Hihihi...

Sebetulnya niat awalnya sih mau nge hitching untuk menghemat tapi kog ya susah banget dapet tumpangan. Sampai di Kemiling, agak bingung untuk melanjutkan ke Sukaraja secara gak ada kendaraan yang langsung menuju kesana. Akhirnya naik angkot menuju terminal Rajabasa. Disini kami coba mencari angkutan yang menuju Sukaraja atau sukur2 bisa nge hitching. Udah mondar mandir gak dapet juga tuh kendaraan. 

Kami bertemu Denny yang seorang pengusaha member Kaskus dan temannya (?) yang anggota mapala UNLA. Malah Denny menawarkan bantuan donasi kepada kami, berupa uang Rp 50ribu/orang. Juga menawarkan mampir ke peternakan luwak miliknya jika kami sempat/ada waktu. Denny juga menyarankan agar kami naik travel saja ke Sukaraja. Terharu deh, ternyata masih ada orang yang bersimpati sama kami para pengelana. 

Ternyata bis yang menuju Sukaraja sudah tidak ada. Pelajaran dari berkeliling di terminal, jangan nanya arah sama tukang ojek. Yang ada malah dipingpong kesana kemari kagak jelas.

Setelah nego harga dengan calo travel di terminal Rajabasa akhirnya sepakat harga yang diberikan adalah Rp 60ribu/orang sampai ke Sukaraja.

Ternyata travel baru berangkat jam 8 malam dari pool-nya sementara itu baru jam 18.00. Akhirnya pesen mie instant rebus dengan telur dan cabe rawit. Aih… nikmatnya. Agak2 bete juga sama sopir travelnya. Ternyata setelah jemput para penumpang lainnya, mobil travel balik ke poolnya lagi entah untuk apa. Baru sekitar jam 10 malem mobil benar2 pergi menuju Sukaraja. Udah gitu nyupirnya gak beres, si sopir cuma tau pedal gas dan rem.

Blind Travel 2 - Hari Pertama

Rabu, 14 November 2012

Rencana awal adalah semua peserta berkumpul di Monas pintu masuk deket Patung Kuda tapi akhirnya dipindah ke Gambir karena cuaca yang sepertinya kurang bersahabat, agak2 mendung gimana gitu. 

Saat berkumpul di Gambir semua peserta belum tau mau kemana dan siapa teman satu team-nya. Setelah pembagian t-shirt Blind Travel 2 yg warnanya kuning gonjreng tapi keren itu baru dibagi kelompok melalui undian.

Akhirnya terbentuk 6 group @ 3 atau 4 orang. Gw, Vieka dan Rikky di team 2.
Target pertama adalah semua team harus mencapai Lapangan Saburai (dimana yah?) dan ditunggu sampai jam 11.00 WIB hari Kamis. 15 November 2012. Tanpa informasi lebih lanjut. Dan diberikan uang saku Rp 60.000/team.

Setelah googling ternyata… tempat tersebut berlokasi di Lampung!

Langsung mengatur strategi bagaimana mencapai lapangan Saburai dengan uang Rp 60 ribu/group. Satu2nya cara untuk bisa mencapai Lampung dengan pengeluaran yang minim adalah nge-hitching! Tanpa nge-hitching gak mungkin banget deh nyampe Saburai dengan bekal Rp 60 ribu/group. Itung aja sendiri: dari Gambir ke Merak (eh ada gak sih bis dg rute kek gitu?) trus nyebrang selat Sunda antara Merak & Bakauheni dengan ferry dilanjutkan bis/angkot dari Bakauheni ke Saburai. Rp 60 ribu/orang juga kurang kali.

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan dulu ke arah Harmoni karena kecil kemungkinan dapet tebengan dari sekitar Gambir yang menuju ke Grogol, ataupun Kalideres.
Selain group kami ada 2 group lainnya yang bersamaan menuju Harmoni. Dan dapatlah tebengan pertama berupa truk yg berenti di lampu merah perempatan Harmoni. Truk tersebut akan menuju Grogol.

Turun di Grogol tepatnya di seberang terminal Grogol, kami harus berjalan kaki menuju lampu merah perempatan Grogol. Setelah mengamati ternyata kesempat untuk dapat tebengan truk lebih besar didapat pada saat lampu merah daripada memberhentikan truk di pinggir jalan atau bahkan di halte. Ya iyalah emangnya bis atau taxi, namanya juga hitching.

3 group berpisah dengan harapan untuk memudahkan mendapat tumpangan, mungkin mobil yang isinya terbatas. Tapi ternyata 3 group ini tak terpisahkan. Kembali bersama2 dalam 1 truk dari Grogol menuju ke Karawaci.

Eh ternyata lumayan ribet loh naek truk itu. Kebayang kudu manjat itu truk dengan kondisi trus yang nyaris jalan gara2 kita berentiin di lampu merah. Masih mending lah kalo trus-nya kecil nah kalo dapet yang gedong?